Kamis, 15 Juni 2017

etika dan moralitas yang terkandung dalam Agni Purana



DASAR ETIKA DAN MORALITAS DALAM AGNI PURANA
Dosen Pengampu : I Made Arsa Wiguna, Sst.Par., M.Pd.H

IMG_20150821_115809


Oleh:
DEWA AYU DWI RATNA KUMALA WINTEN
(14.1.1.1.1.095)





JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA HINDU
FAKULTAS DHARMA ACARYA
INSTITUT HINDU DHARMA NEGERI DENPASAR
2017






BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Agama Hindu meyakini bahwa Veda sebagai sumber ajaran Agama Hindu yang tertinggi. Kitab suci Agama Hindu merupakan sabda suci yang diturunkan oleh Ida Sang Hyang Widhi melaluiPara Maharsi penerima wahyu. Para maharsi menerima wahyu Tuhan melalui dua cara yaitu dengan cara mendengarkan atau disebut dengan Sruti dan melalui ingatan atau disebut dengan Smrti.Sruti disebut Weda.
Weda berasal dari akar kata Vid yang artinya mengetahui, dan Veda berarti pengetahuan. Dalam pengertian semantik, Veda berarti pengetahuan suci, kebenaran sejati, pengetahuan tentang ritual, ajaran suci, atau kitab suci, sumber ajaran Agama Hindu. Weda merupakan kebenaran abadi yang diwahyukan oleh Brahman kepada para rsi di India pada jaman dahulu kala. Pokok kepercayaan selanjutnya adalah Smrti yang tidak kalah pentingnya. Sruti merupakan sabda atau wahyu Tuhan, sedangkang Smrti adalah tradisi. Secara otoritas, Sruti merupakan otoritas utama sedangkan Smrti adalah otoritas kedua yang menjelaskan dan mengembangkan Dharma. Smrti menetapkan hukum-hukum yang mengatur kewajiban-kewajiban pribadi, keluarga, sosial dan warga negara Hindu.
Kata Purana berasal dari kata : pura dan ana sehingga menjadi kata purana. Pura berarti kuno atau jaman kuno, sedangkan ana berarti mengatakan. Purana dapat diartikan sebagai sejarah kuno atau jaman kuno yang isinya menceritakan tentang dewa-dewa, raja-raja, rsi-rsi kuno. Purana juga dapat diartikan sebagai cerita kuno, pencerita sejarah dan koleksi cerita.
Tujuan disusunnya kitab Purana adalah untuk memudahkan iserapnya ajaran suci Veda oleh umat yang awam, untuk membangkitkan mereka akan rasa bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para devata melalui contoh-contoh konkrit, mitos, ceritra-ceritra, legenda, kehidupan orang-orangsuci, para raja dan orang-orang besar, cerita kias dan rangkaian sejarah dari kejadian – kejadian besar.
Kitab-kitab Purana bukan hanya ditujukan kepada para sarjana saja, melainkan yang terpenting adalah kepada orang-orang awam yang tidak dapat memahami ajaran filsafat yang tinggi dan bagi mereka yang tidak berkesempatan mempelajari kitab suci Veda. Maka Paper ini akan menguraikan sedikit tidaknya isi dari Agni Purana yang dikaitkan dengan etika dalam kehidupan.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apakah itu kitab Agni Purana?
2.      Apakah itu Tata Susila?
3.      Bagaimanakah Dasar Etika dan Moralitas dalam Agni Purana?
1.3  Tujuan
1.      Untuk mengetahui kitab agni purana
2.      Untuk mengetahui tata susila
3.      Untuk mengetahui dasar etika dan moralitas dalam agni purana.



 
BAB II
PEMBAHASAN

II.1            Kitab Agni Purana
Kitab Purana adalah Kitab yang suci dan kisah-kisahnya sekarang ini telah membentuk bagian dan isi dari tradisi. Menurut kepercayaan Kresna Dwaipayana Wyasadewa adalah salah satu dari Veda wyasa yang telah menyusun kitab Mahabharata. Setelah menyusun kitab Mahabharata bliau menyusun kitab Purana. Yang mana kitab Purana dibagi menjadi dua yaitu: Maha Purana dan upa Purana yang maing-masing berjumlah 18 Purana.
Agni Purana termasuk kedalam Maha Purana. Nama Agni Purana baiasanya duduk didalam ke-8 daftar Purana utama. Dalam agni Purana terdapat sekitar 15.500 sloka. Agni Purana termasuk di dalam golongan Tamsika Purana bersama dengan Mtsya Purana, Kurma Purana, Lingga Purana, Siva dan Skanda Purana.Pengarang dari Agni Purana adalah dewi Agni sendiri, kemudian menurunkan ajaran Agni Purana ini kepada Rsi Vasistha. Murid Vyasa Deva yang bernama Suta kemudian mewarisi ajaran ini dari gurunya.
Agni Purana tidak memiliki bagian-bagian yang terpisahkan melainkan hanya terbagi menjadi 383 adhyaya atau bab. Dan, salah satu bab yang paling menarik adalah bab ke-380, bagian ini memberikan penjelasan tentang inti sari dari Advaita Brahmanajnana. Yang berarti pengetahuan yang mengajarkan tentang kesatuan antara jiwa individu (Atman) dengan jiwa universal (Brahman). Bagian ini merupakan rangkuman dari ajaran Veda-Veda dan Upanisad.
Ada bebrapa hal yang dibicarakan dalam kitab Agni Purana dan semua itu bukanlah hanya kisah semata. Semua Avatara Visnu yang pernah menjelma ke bumi diceritakan di dalam kitab Agni Purana. Selain itu juga di ajarkan tentang bagaimana persyaratan membangun kuil ataupuan tempat ibadah, membuata patung dewa, tentang astrologi, ekonomi, ritual, pengetahuan tentang obat-obatan, perawatan, pertanian, sastra, drama, menari, tata bahasa, dan rangkuman dari ajaran yang terdapat dari kitab Bhagavadgita, Veda dan Upanisad.
Maha Purana disusun antara 400 A.D hingga 1000 A.D. setiap Purana memiliki 5 karakteristik yang berbeda-beda, yaitu tentang penciptaan alam semesta, prosese penciptaan dan penghancuran secara periiodik, keturuanan raja-raja dan penguasa, menjelaskan keadaan berbagai jaman dan tentang garis keturunan, dengan demikian ini akan memberikan kesan bahwa Purana hanyalah kumpulan kisah-kisah dan anekdot yang berfariasi dan menarik.
Seperti halnya di dalm kitab Agni Purana yang mana terdapat sedikit cerita dan anekdot tetapi penuh dengan ajaran ritual.
II.2            Tata Susila
Susila atau etika agama berasal dari kata “su” yang berarti baik dan “sila” yang berarti tingkah laku. Susila agama dengan demikian berarti aturan-aturan yang baik mengenai tingkah laku yang harus dijadikan pedoman hidup oleh manusia yang beragama, khususnya Agama Hindu (Suhardana, 2006 : 33). Tata susila dapat diartikan sebagai peraturan tingkah laku yang baik dan mulia yang harus menjadi pedoman hidup manusia (Mantra, 1983 : 5). Sebagai mahluk sosial, manusia diharuskan untuk bekerjasama demi melangsungkan kehidupanya bak itu dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Susila adalah pelajaran dari apa yang benar atau baik dari prilaku. Ilmu susila menunjukkan jalan bagi manusia agar berkelakuan baik antara satu dengan yang yang lainnya, demikian pula terhadap makhluk ciptaan yang lainnya. Susila mengandung rinsip-prinsip sitematis tentang bagaimana seharusnya bertindak. Susila adalah prilaku yang benar atau sadacara (Dharmasrama, 2003 : 64).
Dalam kehidupannya, manusia tentunya harus memiliki pedoman tingkah laku yang mengatur sikap dan prilakunya. Masyarakat Hindu sudah menyadari akan akan hal ini karena dalam keyakinan Agama Hindu mengenal ajaran tentang punarbhawa yaitu adanya kelahiran kembali setelah menikmati pahal baik maupun buruk dalam kehidupan sebelumnya. Menurut ajaran karmaphala, setiap perbuatan baik ataupun butuk akan memperoleh pahala baik dan buruk pula, tidak hanya pahala masuk alam sorga atau neraka, menyatu dengan Brahman yang disebut Moksha, namun adanya kelahiran berulang-ulang atau menjelma kembali sebagai manusia atau binatang dan tumbuh-tumbuhan tergantung dari kara yang dilakukan semasa hidup.
Adapun landasan dasar susila bagi umat Hindu adalah Agama Hindu, sedangkan pedoman yang dipergunakan adalah Kitab Suci Weda dan kitab suci Agama Hindu lainya. Tata susila bertujuan untuk membina watak manusia untuk menjadi anggota keluarga, anggota masyarakat yang baik, menjadi putra bangsa dan menjadi manusia yang berpribadi mulia, serta membimbing mereka untuk mencapai kebahagiaan.
Tata susila juga bertujuan menuntun seseorang untuk mempersatukan dirinya dengan sesamanya dan akhirnya menuntun mereka untuk mencapai kesatuan jiwatman nya dengan paramatman (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) sebagai tujuan dari Agama Hindu yaitu untuk mencapai Moksha. Selain daripada itu, tujuan dari susila Agama Hindu adalah untuk membina agar Umat hindu dapat menjaga hubungan yang baik danharmonis dengan sesamanya, untuk membina agar Umat Hindu dapat menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur da untuk membina agar Umat Hindu selalu berbuat yang baik dan benar sesuai dengan ajaran yang tertuang dalam Kitab Suci Agama Hindu.
Dalam kitab Sarasamuccaya ditegaskan tentang pentingnya berprilaku yang baik sebagai berikut :

tasmad vakkayacittaisu nacaredasubham narah,
subhasubham hyacarati tasya tasyasnute phalam
Sarasamuccaya 156

Artinya:

Oleh karenanya, inilah harus diusahakan orang, jangan biarkan kata-kata laksana dan pikiran melakukan perbuatan buruk, karena orang yang melakukan sesuatu yang baik, kebaikanlah diperolehnya, jika kejahatan merupakan perbuatanya, celaka yang ditemukan olehnya.

Ajaran tentang susila agama memang sangat penting dalam mengatur tingkah laku manusia dalam kehidupanya, namun akan lebih penting lagi jika hal itu benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari untuk mencapai terwujudnya masyarakat yang berbudi pekerti luhur.
Agama adalah dasar dari tata susila yang kokoh, kuat dan kekal, ibarat sebuah bangunan yang didirikan, maka dasarnya harus mampu menopang bangunan tersebut. Apabila dasarnya tidak kokoh dan kuat, maka bangunan tersebut akan mudah roboh, demikian pula halnya dengan tata susila, apabila tidak dibangun atas dasaragama yang kokoh dan kekal, maka tata susila tersebut tidak mendalam dan tidak meresap dalam pribadi setiap individu. Susila adalah gerbang menuju realisasi Tuhan, karena tanpa kesempurnaan susila, tidak mungkin ada kemajuan spiritual atau realiasi. Pelaksanaan tata susila akan membantu kita untuk hidup dalam keselarasan dengan tetangga, kawan, anggota keluarga sendiri, dan sesama manusia.orang yang bermoral, yang secara ketat mengikuti prinsip-prinsip tata susila tidak akan pernah menyimpang satu inci pun dari jalan dharma atau kebajikan.
Yudhistira telah mendapatkan reputasi yang abadikarena pelaksanaan tata susilanya. Prilaku yang baik merupaan akar dari kemakmuran material dan spiritual, karena ia meningkatkan kemasyuran.
Semua agama memiliki prinsip-prinsip dalam ajaran susilanya seperti “jangan membunuh, jangan menyakiti orang lain, sayangilah temanmu seperti dirimu sendiri”, akan tetapi mereka tidak memneri alasan yang jelas mengapa hal itu haru dilakukan. Tata susila Hindu sangat halus, luhur dan mendalam. Dasar dari tata susila Hindu adalah ada satu atman yang meresapi segalanya, Ia merupakan roh terdalam dari semua makhluk, yang merupakan kesadaran murni umum.
Suatu konsep dalam Hindu yang dikenal dengan Tat Twam Asi, yang berarti Itu (Brahman) adalah Engkau (Atman). Sangat jelas bahwa Brahman (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) adalah Atman (Kesadaran Murni). Atman atau sang diri adalah satu, satu kehidupan bergetar dalam semua makhluk.
Jadi jika kita menyakiti makhluk lain, maka itu sam artinya dengan menyakiti diri sendiri, dan menyakiti Tuhan sebagai sumber dari Atman itu sendiri. Terdapat satu kehidupan, satu kesadaran umum dalam semua makhluk yang merupakan dasar dari prilaku yang baik dalam Agama Hindu. Inilah yang menjadi dasar dari susila dalam ajaran Agama Hindu.
II.3            Dasar Etika dan Moralitas dalam Agni Purana
Nilai ajaran etika dan moralitas dapat dilihat di dalam Agni Purana ini. Nilai etika dan moralitas adalah sebagai sebuah rambu-rambuuntuk mengatur kehidupan manusia untuk mencapai tujuan, yaitu Moksa. Di dalam Purana ini menceritakan aturan-aturan tersebut sebagai sebuah landasan hukum spiritual yang mesti ditaati.

Contoh, jika ada seseorang membunuh seorang Brahmana mencuri, maka mesti melaporkan pada seorang Raja. Dan, Raja akan menghukum. Kemudian,jika ada seorang yang berdosa, maka ia harus menebus dengan ritual Prayascitta dan yang lainya. Bagian yang terakhir dari Agni Purana ini menceritakan tentang kebajikan dari Agni Purana. Agni Purana adalah kitab yang paling suci. Ia memberikan kekayaan dan menghilangkan segala mimpi buruk tentang hidup. Segala pertanda buruk akan menjauh dari rumah orang yang membawa Agni Purana. Membaca satu bab dari kitab ini akan memberikan pahala yang sama dengan menyumbangkan seekor sapi.
Contohnya :Seorang  Brahman yang mendengarkan penceritaan kisah ini, akan menjadi orang yang terpelajar dalam hal Veda seorang kesatria yang mempelajarinya akan menjadi pemimpin dunia, seorang wesya akan menjadi kaya dan sudra akan mendapat kesehatan. Dan yang terakhir tidak ada yang lebih suci dari pada menulis Purana ini dan menyumbangkannya pada para Brahmana. Demikian pula ada ajarang Sang Rama kepada laksmana yaitu :
            Pada suatu kali Rama mengajarkan pada Laksmana tentang kewajiban seorang Raja dan Agni Purana mengetengahkan ajaran itu. Adapun kewajiban seorang Raja yaitu:
1.      Ia harus mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya untuk kerajaannya.
2.      Ia harus meningkatkannya.
3.      Ia harus melindunginya.
4.      Ia harus memberikan beberapa dari kekayaannya untuk mereka yng membutuhkan.
Seorang Raja harus bersikap sopan, sederhana, memiliki sifat tanpa kekerasan, jujur, bersih dan memaafkan. Ia harus selalu memperhatikan segala sesuatunya melakukan ritual, membantu mereka yang miskin melindungi mereka yang meminta perlingdungan kepadanya, menggunakan kata-kata yang enak di dengar oleh telinga. Sebuah kerajaan memiliki tujuh komponen utama yaitu: seorang raja, mentri, kerajaan sahabat, harta kekayaan, pasukan benteng dan wilayah kerajaan itu sendiri. Ciri-ciri seorang raja adalah: perhiyasannya, kain sutra istimewa, dan sebuah payung kehormatan yang ditaruh diatas kepala beliau, payung kehormatan itu terbut dari bulu Angsa dan bulu Merak. Singgasananya terbuat dari kayu dan dihiyasi dengan emas pada permukaannya. Sang raja bias membelanjakan pajak dalam setahun untuk membuat perhiyasan dan membangun kerajaan.
Terdapat banyak sekali ajaran Etika yang terdapat Agni Purana yang dapat diterapkan dalam kehidupan. Agni purana mengandung banyak sekali kebajikan ajaran mengenai berperilaku. Seperti contohnya didalam ajaran purana diajarkan bagaimana cara berdana punia untuk mendapatkan pahala. Dana Punia merupakan cara terpenting mendapatkan pahala. Dana punia biasanya diberikan ketika seseorang pergi ke kuil atau tempat suci tertentu. Benda yang utama digunakan untuk dana punia adalah emas, kuda, bahan makanan, bibit tanaman, rumah, sapid an sebagainya. Konsep tentang pemberian dana Punia ini akan berubah sesuai dengan perkembangan jaman. 


BAB III
PENUTUP

      
  III.1            KESIMPULAN
Purana merupakan salah satu kitab suci Agama Hindu yang berisikan sejarah dan cerita tentang kejadian-kejadian masa lalu, kehidupan para rsi, para dewata, awal mulanya terjadi alam semesta, manusia dankehidupan di dunia. Dalam kitab-kitab Purana dijelaskan tentang Tri Guna Purusa Avatara yakni Brahma, Visnu dan Siwa yang merupakan manifestasi utama dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, yang memiliki fungsi yang penting dalam proses penciptaan, pemeliharaan dan peleburan alams emesta beserta isinya, serta dijelaskan pula tentang atribut yang digunakan, wahana yang dikendarai, awal munculnya dewa-dewa tersebut, dan lain-lain.
Agni Purana merupakan kitab suci yang membicarakan banyak hal, yaitu darimengenai inkarnasi Avatar Visnu yang pernah menjelma ke bumi, juga diajarkan bagaimana persyaratan membangun sebuah kuil, astrologi, pengetahuan tentang obat-obatan, arsitektur, botani, sastra, drama, menari, tata bahasa dan rangkuman ajaran dalam Bhagavad Gita, Veda dan Upanisad.
Nilai ajaran etika dan moralitas dapat dilihat di dalam Agni Purana ini. Nilai etika dan moralitas adalah sebagai sebuah rambu-rambuuntuk mengatur kehidupan manusia untuk mencapai tujuan, yaitu Moksa.
Di dalam Purana ini menceritakan aturan-aturan tersebut sebagai sebuah landasan hukum spiritual yang mesti ditaati.
III.2            SARAN
Kitab Suci Purana sebainya banyak dipelajari agar kehidupan didunia ini menjadi lebih baik. Generasi muda jaman sekarang seharusnya banyak belajar dari Agni Purana agar terciptanya generasi muda yang sehat dan berguna bagi nusa dan bangsa.



 


1 komentar: