DASAR ETIKA DAN MORALITAS DALAM AGNI PURANA
Dosen Pengampu
: I Made Arsa Wiguna, Sst.Par., M.Pd.H

Oleh:
DEWA AYU DWI RATNA KUMALA WINTEN
(14.1.1.1.1.095)
JURUSAN PENDIDIKAN
AGAMA
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN AGAMA HINDU
FAKULTAS DHARMA ACARYA
INSTITUT HINDU DHARMA NEGERI
DENPASAR
2017
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Agama Hindu
meyakini bahwa Veda sebagai sumber ajaran Agama Hindu yang tertinggi. Kitab
suci Agama Hindu merupakan sabda suci yang diturunkan oleh Ida Sang Hyang Widhi
melaluiPara Maharsi penerima wahyu. Para maharsi menerima wahyu Tuhan melalui
dua cara yaitu dengan cara mendengarkan atau disebut dengan Sruti dan melalui
ingatan atau disebut dengan Smrti.Sruti disebut Weda.
Weda berasal
dari akar kata Vid yang artinya mengetahui, dan Veda berarti pengetahuan. Dalam
pengertian semantik, Veda berarti pengetahuan suci, kebenaran sejati,
pengetahuan tentang ritual, ajaran suci, atau kitab suci, sumber ajaran Agama
Hindu. Weda merupakan kebenaran abadi yang diwahyukan oleh Brahman kepada para
rsi di India pada jaman dahulu kala. Pokok kepercayaan selanjutnya adalah Smrti
yang tidak kalah pentingnya. Sruti merupakan sabda atau wahyu Tuhan, sedangkang
Smrti adalah tradisi. Secara otoritas, Sruti merupakan otoritas utama sedangkan
Smrti adalah otoritas kedua yang menjelaskan dan mengembangkan Dharma. Smrti
menetapkan hukum-hukum yang mengatur kewajiban-kewajiban pribadi, keluarga,
sosial dan warga negara Hindu.
Kata Purana
berasal dari kata : pura dan ana sehingga menjadi kata purana. Pura berarti
kuno atau jaman kuno, sedangkan ana berarti mengatakan. Purana dapat diartikan
sebagai sejarah kuno atau jaman kuno yang isinya menceritakan tentang
dewa-dewa, raja-raja, rsi-rsi kuno. Purana juga dapat diartikan sebagai cerita
kuno, pencerita sejarah dan koleksi cerita.
Tujuan
disusunnya kitab Purana adalah untuk memudahkan iserapnya ajaran suci Veda oleh
umat yang awam, untuk membangkitkan mereka akan rasa bhakti kepada Tuhan Yang
Maha Esa dan para devata melalui contoh-contoh konkrit, mitos, ceritra-ceritra,
legenda, kehidupan orang-orangsuci, para raja dan orang-orang besar, cerita
kias dan rangkaian sejarah dari kejadian – kejadian besar.
Kitab-kitab
Purana bukan hanya ditujukan kepada para sarjana saja, melainkan yang
terpenting adalah kepada orang-orang awam yang tidak dapat memahami ajaran
filsafat yang tinggi dan bagi mereka yang tidak berkesempatan mempelajari kitab
suci Veda. Maka Paper ini akan menguraikan sedikit tidaknya isi dari Agni Purana
yang dikaitkan dengan etika dalam kehidupan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah itu kitab Agni Purana?
2. Apakah itu Tata Susila?
3. Bagaimanakah Dasar Etika dan Moralitas dalam Agni
Purana?
1.3 Tujuan
1.
Untuk mengetahui kitab agni purana
2.
Untuk mengetahui tata susila
3.
Untuk mengetahui dasar etika dan moralitas dalam agni purana.
BAB
II
PEMBAHASAN
II.1
Kitab Agni
Purana
Kitab Purana
adalah Kitab yang suci dan kisah-kisahnya sekarang ini telah membentuk bagian
dan isi dari tradisi. Menurut kepercayaan Kresna Dwaipayana Wyasadewa adalah
salah satu dari Veda wyasa yang telah menyusun kitab Mahabharata. Setelah
menyusun kitab Mahabharata bliau menyusun kitab Purana. Yang mana kitab Purana
dibagi menjadi dua yaitu: Maha Purana dan upa Purana yang maing-masing
berjumlah 18 Purana.
Agni Purana
termasuk kedalam Maha Purana. Nama Agni Purana baiasanya duduk didalam ke-8
daftar Purana utama. Dalam agni Purana terdapat sekitar 15.500 sloka. Agni
Purana termasuk di dalam golongan Tamsika Purana bersama dengan Mtsya Purana,
Kurma Purana, Lingga Purana, Siva dan Skanda Purana.Pengarang dari Agni Purana
adalah dewi Agni sendiri, kemudian menurunkan ajaran Agni Purana ini kepada Rsi
Vasistha. Murid Vyasa Deva yang bernama Suta kemudian mewarisi ajaran ini dari
gurunya.
Agni Purana
tidak memiliki bagian-bagian yang terpisahkan melainkan hanya terbagi menjadi
383 adhyaya atau bab. Dan, salah satu bab yang paling menarik adalah bab
ke-380, bagian ini memberikan penjelasan tentang inti sari dari Advaita
Brahmanajnana. Yang berarti pengetahuan yang mengajarkan tentang kesatuan
antara jiwa individu (Atman) dengan jiwa universal (Brahman). Bagian ini
merupakan rangkuman dari ajaran Veda-Veda dan Upanisad.
Ada bebrapa
hal yang dibicarakan dalam kitab Agni Purana dan semua itu bukanlah hanya kisah
semata. Semua Avatara Visnu yang pernah menjelma ke bumi diceritakan di dalam
kitab Agni Purana. Selain itu juga di ajarkan tentang bagaimana persyaratan
membangun kuil ataupuan tempat ibadah, membuata patung dewa, tentang astrologi,
ekonomi, ritual, pengetahuan tentang obat-obatan, perawatan, pertanian, sastra,
drama, menari, tata bahasa, dan rangkuman dari ajaran yang terdapat dari kitab
Bhagavadgita, Veda dan Upanisad.
Maha Purana
disusun antara 400 A.D hingga 1000 A.D. setiap Purana memiliki 5 karakteristik
yang berbeda-beda, yaitu tentang penciptaan alam semesta, prosese penciptaan
dan penghancuran secara periiodik, keturuanan raja-raja dan penguasa,
menjelaskan keadaan berbagai jaman dan tentang garis keturunan, dengan demikian
ini akan memberikan kesan bahwa Purana hanyalah kumpulan kisah-kisah dan
anekdot yang berfariasi dan menarik.
Seperti
halnya di dalm kitab Agni Purana yang mana terdapat sedikit cerita dan anekdot
tetapi penuh dengan ajaran ritual.
II.2
Tata Susila
Susila atau etika agama berasal dari
kata “su” yang berarti baik dan “sila” yang berarti tingkah laku. Susila agama
dengan demikian berarti aturan-aturan yang baik mengenai tingkah laku yang
harus dijadikan pedoman hidup oleh manusia yang beragama, khususnya Agama Hindu
(Suhardana, 2006 : 33). Tata susila dapat diartikan sebagai peraturan tingkah
laku yang baik dan mulia yang harus menjadi pedoman hidup manusia (Mantra, 1983
: 5). Sebagai mahluk sosial, manusia diharuskan untuk bekerjasama demi
melangsungkan kehidupanya bak itu dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.
Susila adalah pelajaran dari apa yang benar atau baik dari prilaku. Ilmu susila
menunjukkan jalan bagi manusia agar berkelakuan baik antara satu dengan yang yang
lainnya, demikian pula terhadap makhluk ciptaan yang lainnya. Susila mengandung
rinsip-prinsip sitematis tentang bagaimana seharusnya bertindak. Susila adalah
prilaku yang benar atau sadacara (Dharmasrama, 2003 : 64).
Dalam kehidupannya, manusia tentunya
harus memiliki pedoman tingkah laku yang mengatur sikap dan prilakunya.
Masyarakat Hindu sudah menyadari akan akan hal ini karena dalam keyakinan Agama
Hindu mengenal ajaran tentang punarbhawa yaitu adanya kelahiran kembali setelah
menikmati pahal baik maupun buruk dalam kehidupan sebelumnya. Menurut ajaran
karmaphala, setiap perbuatan baik ataupun butuk akan memperoleh pahala baik dan
buruk pula, tidak hanya pahala masuk alam sorga atau neraka, menyatu dengan
Brahman yang disebut Moksha, namun adanya kelahiran berulang-ulang atau
menjelma kembali sebagai manusia atau binatang dan tumbuh-tumbuhan tergantung
dari kara yang dilakukan semasa hidup.
Adapun landasan dasar susila bagi
umat Hindu adalah Agama Hindu, sedangkan pedoman yang dipergunakan adalah Kitab
Suci Weda dan kitab suci Agama Hindu lainya. Tata susila bertujuan untuk
membina watak manusia untuk menjadi anggota keluarga, anggota masyarakat yang
baik, menjadi putra bangsa dan menjadi manusia yang berpribadi mulia, serta
membimbing mereka untuk mencapai kebahagiaan.
Tata susila juga bertujuan menuntun
seseorang untuk mempersatukan dirinya dengan sesamanya dan akhirnya menuntun
mereka untuk mencapai kesatuan jiwatman nya dengan paramatman (Ida Sang Hyang
Widhi Wasa) sebagai tujuan dari Agama Hindu yaitu untuk mencapai Moksha. Selain
daripada itu, tujuan dari susila Agama Hindu adalah untuk membina agar Umat
hindu dapat menjaga hubungan yang baik danharmonis dengan sesamanya, untuk
membina agar Umat Hindu dapat menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur da
untuk membina agar Umat Hindu selalu berbuat yang baik dan benar sesuai dengan
ajaran yang tertuang dalam Kitab Suci Agama Hindu.
Dalam kitab Sarasamuccaya ditegaskan
tentang pentingnya berprilaku yang baik sebagai berikut :
tasmad vakkayacittaisu nacaredasubham
narah,
subhasubham hyacarati tasya tasyasnute phalam
Sarasamuccaya 156
Artinya:
Oleh karenanya, inilah harus diusahakan orang, jangan biarkan kata-kata laksana
dan pikiran melakukan perbuatan buruk, karena orang yang melakukan sesuatu yang
baik, kebaikanlah diperolehnya, jika kejahatan merupakan perbuatanya, celaka
yang ditemukan olehnya.
Ajaran tentang susila agama memang
sangat penting dalam mengatur tingkah laku manusia dalam kehidupanya, namun
akan lebih penting lagi jika hal itu benar-benar diimplementasikan dalam
kehidupan dan pergaulan sehari-hari untuk mencapai terwujudnya masyarakat yang
berbudi pekerti luhur.
Agama adalah dasar dari tata susila
yang kokoh, kuat dan kekal, ibarat sebuah bangunan yang didirikan, maka
dasarnya harus mampu menopang bangunan tersebut. Apabila dasarnya tidak kokoh
dan kuat, maka bangunan tersebut akan mudah roboh, demikian pula halnya dengan
tata susila, apabila tidak dibangun atas dasaragama yang kokoh dan kekal, maka
tata susila tersebut tidak mendalam dan tidak meresap dalam pribadi setiap
individu. Susila adalah gerbang menuju realisasi Tuhan, karena tanpa
kesempurnaan susila, tidak mungkin ada kemajuan spiritual atau realiasi.
Pelaksanaan tata susila akan membantu kita untuk hidup dalam keselarasan dengan
tetangga, kawan, anggota keluarga sendiri, dan sesama manusia.orang yang
bermoral, yang secara ketat mengikuti prinsip-prinsip tata susila tidak akan
pernah menyimpang satu inci pun dari jalan dharma atau kebajikan.
Yudhistira telah mendapatkan
reputasi yang abadikarena pelaksanaan tata susilanya. Prilaku yang baik
merupaan akar dari kemakmuran material dan spiritual, karena ia meningkatkan
kemasyuran.
Semua agama memiliki prinsip-prinsip
dalam ajaran susilanya seperti “jangan membunuh, jangan menyakiti orang lain,
sayangilah temanmu seperti dirimu sendiri”, akan tetapi mereka tidak memneri
alasan yang jelas mengapa hal itu haru dilakukan. Tata susila Hindu sangat
halus, luhur dan mendalam. Dasar dari tata susila Hindu adalah ada satu atman
yang meresapi segalanya, Ia merupakan roh terdalam dari semua makhluk, yang
merupakan kesadaran murni umum.
Suatu konsep dalam Hindu yang
dikenal dengan Tat Twam Asi, yang berarti Itu (Brahman) adalah Engkau (Atman).
Sangat jelas bahwa Brahman (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) adalah Atman (Kesadaran
Murni). Atman atau sang diri adalah satu, satu kehidupan bergetar dalam semua
makhluk.
Jadi jika kita menyakiti makhluk
lain, maka itu sam artinya dengan menyakiti diri sendiri, dan menyakiti Tuhan
sebagai sumber dari Atman itu sendiri. Terdapat satu kehidupan, satu kesadaran
umum dalam semua makhluk yang merupakan dasar dari prilaku yang baik dalam
Agama Hindu. Inilah yang menjadi dasar dari susila dalam ajaran Agama Hindu.
II.3
Dasar Etika
dan Moralitas dalam Agni Purana
Nilai ajaran etika dan moralitas
dapat dilihat di dalam Agni Purana ini. Nilai etika dan moralitas adalah
sebagai sebuah rambu-rambuuntuk mengatur kehidupan manusia untuk mencapai
tujuan, yaitu Moksa. Di dalam Purana ini menceritakan aturan-aturan tersebut
sebagai sebuah landasan hukum spiritual yang mesti ditaati.
Contoh, jika ada seseorang membunuh seorang Brahmana mencuri, maka mesti
melaporkan pada seorang Raja. Dan, Raja akan menghukum. Kemudian,jika ada
seorang yang berdosa, maka ia harus menebus dengan ritual Prayascitta dan yang
lainya. Bagian yang terakhir dari Agni Purana ini menceritakan tentang kebajikan
dari Agni Purana. Agni Purana adalah kitab yang paling suci. Ia memberikan
kekayaan dan menghilangkan segala mimpi buruk tentang hidup. Segala pertanda
buruk akan menjauh dari rumah orang yang membawa Agni Purana. Membaca satu bab
dari kitab ini akan memberikan pahala yang sama dengan menyumbangkan seekor
sapi.
Contohnya :Seorang Brahman yang
mendengarkan penceritaan kisah ini, akan menjadi orang yang terpelajar dalam
hal Veda seorang kesatria yang mempelajarinya akan menjadi pemimpin dunia,
seorang wesya akan menjadi kaya dan sudra akan mendapat kesehatan. Dan yang
terakhir tidak ada yang lebih suci dari pada menulis Purana ini dan
menyumbangkannya pada para Brahmana. Demikian pula ada ajarang Sang Rama kepada
laksmana yaitu :
Pada suatu kali Rama mengajarkan pada Laksmana tentang kewajiban seorang
Raja dan Agni Purana mengetengahkan ajaran itu. Adapun kewajiban seorang Raja
yaitu:
1.
Ia harus mengumpulkan kekayaan
sebanyak-banyaknya untuk kerajaannya.
2.
Ia harus meningkatkannya.
3.
Ia harus melindunginya.
4.
Ia harus memberikan beberapa dari
kekayaannya untuk mereka yng membutuhkan.
Seorang Raja harus bersikap sopan,
sederhana, memiliki sifat tanpa kekerasan, jujur, bersih dan memaafkan. Ia
harus selalu memperhatikan segala sesuatunya melakukan ritual, membantu mereka
yang miskin melindungi mereka yang meminta perlingdungan kepadanya, menggunakan
kata-kata yang enak di dengar oleh telinga. Sebuah kerajaan memiliki tujuh
komponen utama yaitu: seorang raja, mentri, kerajaan sahabat, harta kekayaan,
pasukan benteng dan wilayah kerajaan itu sendiri. Ciri-ciri seorang raja
adalah: perhiyasannya, kain sutra istimewa, dan sebuah payung kehormatan yang
ditaruh diatas kepala beliau, payung kehormatan itu terbut dari bulu Angsa dan
bulu Merak. Singgasananya terbuat dari kayu dan dihiyasi dengan emas pada
permukaannya. Sang raja bias membelanjakan pajak dalam setahun untuk membuat
perhiyasan dan membangun kerajaan.
Terdapat banyak sekali ajaran Etika yang
terdapat Agni Purana yang dapat diterapkan dalam kehidupan. Agni purana mengandung
banyak sekali kebajikan ajaran mengenai berperilaku. Seperti contohnya didalam ajaran
purana diajarkan bagaimana cara berdana punia untuk mendapatkan pahala. Dana Punia merupakan cara terpenting mendapatkan pahala. Dana punia
biasanya diberikan ketika seseorang pergi ke kuil atau tempat suci tertentu.
Benda yang utama digunakan untuk dana punia adalah emas, kuda, bahan makanan,
bibit tanaman, rumah, sapid an sebagainya. Konsep tentang pemberian dana Punia
ini akan berubah sesuai dengan perkembangan jaman.
BAB III
PENUTUP
III.1
KESIMPULAN
Purana
merupakan salah satu kitab suci Agama Hindu yang berisikan sejarah dan cerita
tentang kejadian-kejadian masa lalu, kehidupan para rsi, para dewata, awal
mulanya terjadi alam semesta, manusia dankehidupan di dunia. Dalam kitab-kitab
Purana dijelaskan tentang Tri Guna Purusa Avatara yakni Brahma, Visnu dan Siwa
yang merupakan manifestasi utama dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang
Maha Esa, yang memiliki fungsi yang penting dalam proses penciptaan,
pemeliharaan dan peleburan alams emesta beserta isinya, serta dijelaskan pula
tentang atribut yang digunakan, wahana yang dikendarai, awal munculnya dewa-dewa
tersebut, dan lain-lain.
Agni Purana
merupakan kitab suci yang membicarakan banyak hal, yaitu darimengenai inkarnasi
Avatar Visnu yang pernah menjelma ke bumi, juga diajarkan bagaimana persyaratan
membangun sebuah kuil, astrologi, pengetahuan tentang obat-obatan, arsitektur,
botani, sastra, drama, menari, tata bahasa dan rangkuman ajaran dalam Bhagavad
Gita, Veda dan Upanisad.
Nilai ajaran
etika dan moralitas dapat dilihat di dalam Agni Purana ini. Nilai etika dan
moralitas adalah sebagai sebuah rambu-rambuuntuk mengatur kehidupan manusia
untuk mencapai tujuan, yaitu Moksa.
Di dalam
Purana ini menceritakan aturan-aturan tersebut sebagai sebuah landasan hukum
spiritual yang mesti ditaati.
III.2
SARAN
Kitab Suci
Purana sebainya banyak dipelajari agar kehidupan didunia ini menjadi lebih baik.
Generasi muda jaman sekarang seharusnya banyak belajar dari Agni Purana agar terciptanya
generasi muda yang sehat dan berguna bagi nusa dan bangsa.
more information cek me on fb: Dewa Ayu Dwi Ratna thanks :)
BalasHapus